Rabu, 22 Oktober 2008

Kiai Pesantren dan Genuine Kebudayaan Indonesia

Pesantren mempunyai tradisi (turats) khas. Sebuah khazanah kejiwaan (makhzun an-nafs) yang bersifat material dan imaterial yang dikembangkan untuk melahirkan pemikiran yang progresif-transformatif dalam upaya membangun masyarakat.

Di dalam pesantren ada 5 (lima) unsur pokok yaitu kiai, masjid, santri, pondok, dan kitab Islam klasik. Kiai adalah penjaga spiritualitas dan intelektualitas yang senantiasa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikut melalui lembaga pesantren.

Jika ditelusuri, genealogi intelektual di kalangan ulama pesantrenkhususnya Nahdlatul Ulamatak dapat dilepaskan dari jaringan yang dibentuk ulama peletak dasar intelektualisme pesantren dan NU, semisal Syaikh Nawawi Al-Bantani, KH Mahfudz Al-Termasi, KH Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asyari, KH A. Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syamsuri.

Kiai Pesantren dan Genuine Kebudayaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Pesantren dan Genuine Kebudayaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Pesantren dan Genuine Kebudayaan Indonesia

Para Kiai mengajarkan Kitab kuning yang merupakan elemen unik yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya serta memberikan kontribusi positif terhadap pemikiran Islam yang toleran dan mencerahkan. Dengan keduanya pesantren acapkali bersifat fleksibel dan toleran sehingga jauh dari watak radikal apalagi ekstrem dalam menyikapi masalah sosial, politik, maupun kebangsaan.

Karena punya watak dan tradisi yang fleksibel dan toleran, maka pesantren mampu menjembatani problem keotentikan dan kemodernan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) secara harmonis.

Jika tradisi ini bisa dipertahankan, maka pesantren akan selalu eksis dalam memperjuangkan tujuan-tujuan dasar Syariat Islam (maqashid al-syariat), yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal. Yaitu Syariat Islam yang sesuai dengan kehidupan demokrasi dan mencerminkan karakter genuine kebudayaan Indonesia sebagai alternatif dari tuntutan formalisasi Syariat Islam yang kaffah pada satu sisi dengan keharusan menegakkan demokrasi dalam nation-state Indonesia pada sisi yang lain.

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Buku yang ditulis Sahabat Jamal, Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jamaah:Pendiri dan Penggerak NU ini akan menegaskan kembali nilai-nilai yang diperjuangkan pesantren. Sebuah buku yang menggugah kesadaran dan, Insya Allah, merubah keadaan. Selamat membaca!

Maman Imanulhaq

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka, Ketua LDNU Jabar

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47312/kiai-pesantren-dan-genuine-kebudayaan-indonesia

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rabithah Ma'ahid Islamiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rabithah Ma'ahid Islamiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rabithah Ma'ahid Islamiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock