Situbondo, Rabithah Ma'ahid Islamiyah. Memori tentang keberhasilan Muktamar NU ke-27 di Situbondo yang mengukuhkan kembalinya NU ke Khittah 1926 dan penerimaan asas tunggal Pancasila, kembali dikuak. Melalui halaqah nasional yang bertema Dinamika Pemikiran Munas Alim Ulama dan Muktamar NU ke-27, sejumlah tokoh sekaligus pelaku sejarah, memberikan kesaksian, Rabu (12/6).
Mereka adalah KH Muchit Muzadi sebagai asisten KH Ahmad Shiddiq, KH Hasyim Muzadi selaku panitia lokal; H Ahmad Thohir, dokter pribadi KH Asad Syamsul Arifin; Muhamad Baharun, wartawan majalah Tempo yang diberi akses KH Asad untuk meliput secara bebas jalannya Muktamar, dan Slamet Efendi Yusuf, Ketua Umum GP Ansor saat itu.
| Para Pelaku Sejarah Bicara Khittah NU 1926 (Sumber Gambar : Nu Online) |
Para Pelaku Sejarah Bicara Khittah NU 1926
Mereka memberikan testimoni betapa bersejarahnya muktamar itu. Kita di sini ingin menyampaikan fakta sejarah, bukan tafsir sejarah. Kita kagum dengan dengan pemikiran para kiai sepuh itu. Meski mereka hidup sederhana namun bisa merubah pemahaman umat Islam tentang agama dan negara, jelas Slamet Efendi Yusuf.Sedangkan KH Hasyim Muzadi menyatakan bahwa saat ini terjadi pemahaman yang kacau antara khittah dan politik, sehingga perlu penjelasan dari saksi hidup pelaku sejarah kembalinya NU ke Khittah 1926. Politik memang tidak bisa dihilangkan dari negara, tapi bagaimana agar penerapan politik itu baik, sehingga tidak mengacaukan arti khittah dan politk itu sendiri, ucapnya.
