Rabu, 12 November 2014

Puisi-puisi Sidiq Paninggal

Sepeda Azimat

Sepeda kecil roda dua

Asli bikinan shanghai china

Puisi-puisi Sidiq Paninggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi-puisi Sidiq Paninggal (Sumber Gambar : Nu Online)


Puisi-puisi Sidiq Paninggal

Dibeli abah seharga kitab safinatun naja

Dibayarnya bercicil berkali lima

Sepeda mini elok dipandang

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Indah nian berhias bintang

Dengan keranjang di depan stang

Lari kencang penuh seimbang

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Sepeda kenangan dari abah almarhum

Warnanya khas merah ranum

Sengaja ku-bawa serta sebagai prasasti

Tanda-tarikh dan pengingat diri

Dari mana aku memulai

Hidup yang sekarang diberkahi

Dia-lah milikku sedari kecil,

Kuwarisi dari kakaknya-kakakku selewat baligh aqil,

Setelah menghafal jurumiyah dan munggah Ibn Aqil,

Sebagai tanda melampaui masa jahil

Sepeda itu warisan turun temurun,

Menghantarku, adik dan kakakku mengaji berbagai rukun.

Dulu ku kayuh setiap hasibis dzhur

Ke sekolah arab di kampung balik-sumur.

kini aku telah udzur,

tapi sepeda itu masih saja berumur.

Tinta emas yang menandainya masih terbaca lamat-lamat,

Jika ia kupandangi, memberiku ia air semangat

Jika ia kuingat-ingat, ingatlah aku pada pelajaran akhirat.

Sepedaku, lebih dari sekedar azimat.

Orang Awam

Aku orang awam

Imanku, imannya orang awam

Taqwaku, taqwanya orang awam

Sujudku, sujudnya orang awam

Lakuku, lakunya orang awam

Jangan kau tanya aku yang rumit-rumit

Karena aku orang awam

Jangan kau tuntut aku yang sulit-sulit

Karena aku orang awam

Jangan kau cerca aku dengan berbelit

Karena aku orang awam

Beginilah aku orang yang awam

Beginilah tulisanku, tulisan yang wam

Beginilah sajakku, sajak yang awan

Persangkalan

Ku ingin sekali menyerah pada-Mu

Tapi hatiku masih padaku

Ku ingin sekali serahkan segala-gala

Tapi duniaku selalu merebutnya

Ku ingin sekali terbenam dalam sujud

Tapi rusukku enggan membuat sudut

Ku ingin sekali air mata deras bertetesan

Tapi kalbuku masih sering tertawa cekikikan

Walau air mataku terkadang banjir berlinang

Namun jiwaku masih terasa kerin kerontang

Tingginya langit sulit diukur

Tapi jiwa harus tetap dilatih dan diatur

Belum Berhasil

Ketika mulut mulai berkomat-kamit

Merapal tasbih sebagai wirid

Ke-Akuan harus beringsut untuk pamit

Karena kalbu akan segera singit

Harusnya tak ada apapun yang hadir

Tidak juga logika berpikir

Kepada kekosongan, hati sumampir

Meniti jalan berlatih dzikir

Jangan cari ke mana-mana

Karena ada di mana-mana

Rasakanlah kehadirannya

Sejuk hati sebagai tanda

Baca syahadat

Baca sholawat

Qulhuwallahu ahad

Dengan penuh hikmat

Diri ini terlalu musykil

Mengharap selalu akan hasil

Terkadang malah merasa kamil

Padahal bukti belum berhasil

SIDIQ PANINGGAL adalah santri di Pondok Pesantren Kroya, Jawa Tengah

Dari (Puisi) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39102/puisi-puisi-sidiq-paninggal

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rabithah Ma'ahid Islamiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rabithah Ma'ahid Islamiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rabithah Ma'ahid Islamiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock