Minggu, 04 Februari 2007

Mushaf Pusaka Masjid Agung Kudus

Ketika memasuki Masjid Agung Kudus, pandangan mata akan tertuju pada sebuah mushaf Al-Quran berukuran raksasa yang ditempatkan di pojok ruangan utama. Al-Quran besar yang diberi nama Mushaf Pusaka ini berukuran 2x1 meter.

Pengurus masjid Agung Anif farizi menjelaskan mushaf pusaka ini merupakan hasil karya seniman-seniman kaligrafi kota Kudus. Mereka yang ditunjuk sebagai tim penulisan waktu itu terdiri dari mendiang Noor Aufa, Ahmad Thoha dan Faruq (Janggalan).

Mushaf Pusaka Masjid Agung Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mushaf Pusaka Masjid Agung Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)


Mushaf Pusaka Masjid Agung Kudus

Tulisan Quran itu murni oleh ketiga seniman kaligrafi itu dengan koordinator Noor Aufa (alm) sementara desain hiasan pinggiran saya sendiri, ujarnya kepada Rabithah Ma'ahid Islamiyah ketika ditemui di Masjid Agung, Rabu (22/5).

Ia menceritakan gagasan membuat mushaf ini berawal dari keinginan pemerintah daerah pada era bupati Soedarsono yang melihat potensi seniman kaligrafi kota kretek. Pada waktu itu, kota Kudus telah lahir sosok mendiang Noor Aufa yang brestasi meraih juara kaligrafi tingkat nasional, juara tingkat ASEAN di Brunei dan perhelatan penulis dunia di Turki.

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Saat itu sekitar tahun 1987, melihat potensi kaligrafi yang luar biasa, pemda menggandeng pihak masjid Agung menggagas mushaf itu. Setelah melalui proses selama 2,5 tahun karya besar mushaf pusaka itu bisa rampung. tuturnya.

Terkait proses penggarapannya, Anif menuturkan sebelum menulis meminta restu terlebih dahulu kepada ulama kharismatik KH Syaroni Ahmadi Alhafidz. Saat penulisan berlangsung, setiap halaman ditashihkan kepada pengasuh Pondok Pesantren Yanbuul Quran KH. Ulin Nuha Arwani.

Dituturkan, tantangan yang paling berat waktu itu, saat penulisan sudah memperoleh beberapa halaman ternyata ada kesalahan setelah ditashih, akhirnya harus memulai lagi dari awal.

Begitu pula waktu mau menulis yang harus keadaan suci, setiap habis wudlu selalu batal karena penulisnya mengeluarkan angin (kentut). Meski mengorbankan waktu, alhamdulillah berhasil, kenang Anif.

Nama Mushaf Pusaka dipilih karena mushaf ini memiliki keistimewaan dibanding mushaf lainnya. Dikatakan, Al-Quran ini sangat pusaka nilai besarnya, nilai tulisan tangannya dan nilai khas kedaerahannya.

Nilai kekhasannya bisa dilihat dari halaman surat Al-Fatihah berwarna semua dan pinggirannya dihiasi ornamen menara, imbuh pengurus LP Maarif Kudus ini.

Untuk menjaga dari kerusakan, Mushaf pusaka ini dipertahankan murni tulisan tangan dengan dilapisi obat anti gores. Usai rampung ditashih semua oleh tim, mushaf dilapisi clear biar tidak mudah tergores dan kesannya terlihat seperti cetak, katanya.

Anif menambahkan, setelah Kudus berhasil membuat mushaf ini, Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Wonosobo juga membuat mushaf serupa. "Namun di sana lebih besar dari Kudus," pungkasnya singkat.

Hingga kini, Mushaf Pusaka selalu dibaca dalam kegiatan tadarusan setiap malam Ahad di Masjid Agung yang beralamat Jl. Simpang Tujuh Kudus. (Qomarul Adib/Red:Anam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44658/mushaf-pusaka-masjid-agung-kudus

Rabithah Ma'ahid Islamiyah

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rabithah Ma'ahid Islamiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rabithah Ma'ahid Islamiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rabithah Ma'ahid Islamiyah dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock